Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.
Komunitas merupakan aset yang besar sekaligus menjadi motor perkembangan open source di Indonesia. Kemunculan beberapa komunitas seperti Ubuntu, KPLI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia), Open Suse, dsb, telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam sosialisasi open source ke masyarakat umum. Komunitas biasanya di manajemen oleh pengguna atau pengembang yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap sesuatu. Secara organisasi manajemen komunitas dapat dikatakan buruk, karena mayoritas komunitas di manajemen tidak secara profesional. Bukan tidak mungkin komunitas open source di Indonesia, kadang bisa muncul dan hilang dengan sendirinya. Duplikasi atau sistem regenerasi terkadang tidak dapat berjalan baik, sehingga peran komunitas menjadi semakin terpuruk. Hal ini wajar, karena setiap person dalam komunitas memiliki tanggung jawab dan pekerjaan yang lain, sehingga komunitas hanya menjadi rumah kedua bagi mereka.
Permasalahan ini, sepertinya harus mulai dipikirkan oleh seluruh pihak, termasuk pemerintah. Keberadaan IGOS center, POSS Network, dan FOSS-ID seharusnya bisa menyelesaikan permasalahan ini. Jika melihat perkembangan saat ini, IGOS, POSS Network dan FOSS-ID sebenarnya tidak terlepas dari komunitas. Namun kegiatan unit-unit hanya terbatas pada sosialisasi, pelatihan, dan migrasi. Sehingga melupakan peran supporting dan pelayanan pasca kegiatan tersebut. Akibat dari kurangnya supporting dan pelayanan pasca migrasi, membuat penggunan atau instasi yang telah melalui proses sosialisasi dan migrasi menjadi “tidak diperhatikan”. Pengguna atau instansi yang telah termigrasi harus mencari informasi secara mandiri untuk menyelesaikan permasalahannya. Bahkan tidak jarang yang harus bergabung dalam komunitas tertentu. Namun tetap saja, pelayanan yang diberikan komunitas tidaklah optimal.
Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan perkembangan open source di luar negeri. Masyarakat indonesia, bisa dibilang tidak terbiasa mandiri, ketika menghadapi perubahan. Apalagi yang kita rubah adalah kebiasaan yang sudah cukup melekat di masyarakat kita. Menanggapi hal ini, perlu adanya sistem supporting dan pelayanan yang terpusat, sehingga pengguna dapat mengeluh dan bertanya melalui sistem atau supporting yang tersedia. Supporting dan pelayanan ini, alangkah baiknya berasal dari masing-masing FOSS-ID dan POSS Network. Namun hendaknya juga melibatkan komunitas dalam memberikan pelayanan. FOSS-ID, IGOS center dan POSS Network hanya berperan dalam posisi manajemen untuk komunitas ini. Bisa saja kita sebut ini sebagai open source community building. Komunitas nantinya di berikan sebuah tempat untuk bereksperimen, sharing ilmu, dan mempelajari tentang organisasi dan bisnis open source.
Model pendanaan
Beberapa instansi pemerintah memiliki pos anggaran sendiri untuk program kegiatan yang mereka laksanakan. Sebagai contoh pos anggaran yang disalurkan untuk POSS Network. Model pendanaan ini dapat digunakan untuk pengembangan komunitas dan penguatan helpdesk di masing-masing daerah perwakilan POSS Network. Bahkan bisa dimungkinkan POSS Network membuat lembaga pelatihan dimana manajemennya ditangani oleh POSS Network. Lembaga pelatihan ini bisa berkerjasama dengan pemerintah daerah untuk melakukan sosialisasi di instansi mereka. Selanjutnya lembaga pelatihan ini dapat memberikan supporting dan pelayanan sebagai nilai tambah.
Tempat pelatihan ini juga dapat meningkatkan kualitas SDM komunitas open source lokal. Komunitas dapat mengembangkan kemampuan dan kompetensinya masing-masing, yang pada akhirnya juga digunakan untuk mendukung pelayanan helpdesk open source.
Model layanan helpdesk
Model layanan helpdesk open source yg terbaik adalah dengan menyediakan seluruh informasi dalam berbagai media, baik secara online maupun offline. Untuk online bisa melalui media chatting, telepon dan berbasis wiki. Sementara untuk offline media, bisa melalui buku-buku untuk kalangan terbatas. Layanan helpdesk dalam bentuk paket juga bisa diterapkan disini, seperti layanan helpdesk yang diterapkan oleh canonical.
Bagaimana dengan regenerasi ?
Hal ini merupakan isu yang sampai saat ini, saya sendiri belum memiliki jawabannya. Karena masalah kesulitan regenerasi dan duplikasi tidak hanya terjadi di satu komunitas, melainkan banyak komunitas. Namun besar harapan saya, jika POSS Network atau FOSS-ID atau IGOS Center dapat mengubah manajemen organisasi komunitas menjadi lebih baik.







