Perjalanan ke Bandung kemaren, menyisakan banyak pengalaman menarik mulai dari kisah itu, perkenalan dengan rekan-rekan pemakalah dan update informasi dari seminar nasional. Ke Bandung, sebenarnya adalah untuk melakukan persentasi makalah Studi Kasus Celah Keamanan pada Jaringan Nirkabel yang Menerapkan WEP (Wired Equivalent Privacy) dan makalah Analisa dan Studi Kasus Manajemen Hotspot dengan Aplikasi Captive Portal pada Jaringan Nirkabel untuk Layanan Hotspot UPT STMIK AMIKOM YOGYAKARTA pada acara Seminar Nasional (Call for papers) Open Source III, disini saya mewakili kampus AMIKOM.
Dan beberapa rekan saya di UGOS yang kebetulan satu almamater, seperti Dion dan Manda turut serta untuk mewakili PPTiK UGM dengan makalah PENERAPAN MODEL MIGRASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAHAN, STUDI KASUS; KOMPLEKS WALIKOTA YOGYAKARTA dan DESAIN DAN IMPLEMENTASI DISTRIBUSI LINUX UGOS. Dan kebetulan keberangkatan dan pulang juga bareng dalam 1 kereta, tapi beda gerbong.
Acara ini bertempat di Hotel Jayakarta Bandung, Jl. Ir. H. Juanda 381 A, Dago, Bandung 40135.
Berikut ini oleh-oleh dari seminar tersebut :
Peluang dan Tantangan Bisnis ke Open Source
Bpk. Harry Kaligis, SUN Costa Program
Dalam topik ini, bapak Harry Kaligis memberikan contoh inovasi-inovasi yang dilakukan oleh google, youtube dan facebook. Facebook baru belakangan ini “booming†berkat ide brilian seorang pemuda berumur 20 tahun, dia berhasil menciptakan sistem yang harganya miliaran dollar. Dan semua sistem ini dibangun menggunakan open source teknologi. Selain itu, beliau mengungkapkan kegelisahannya terhadap iklim pendidikan di indonesia yang lebih mendidik mahasiswa untuk mencari pekerjaan setelah lulus bukan menciptakan lapangan kerja. Dengan mengambil contoh dari facebook, seharusnya tenaga-tenaga IT lebih banyak menjadi technopreneur.
Open Source dapat meningkatkan pengembangan dan penghasilan perusahaan SUN Microsystem. Lihat saja perusahaan ini telah membeli MySQL, VirtualBox yang berasal dari komunitas open source, dengan harga yang cukup besar. Selain itu, produk open source lain seperti Zimbra yang dibeli oleh Yahoo, JBOSS (J2EE) dibeli oleh Redhat, Suse Linux dibeli oleh Novell, dan masih banyak lagi produk komunitas yang bernilai bisnis. Ini menunjukkan bahwa open source memiliki kekuatan “kapitalisasi†yang dapat menguntungkan perusahaan bila mengadopsinya. MySQL merupakan contoh pengembangan berbasis open source yang dilakukan oleh komunitas, dan nilai kapitalisasi-nya dalam bisnis sangat luar biasa. Hal ini dijadikan peluang oleh SUN untuk membentuk komunitas-komunitas di universitas indonesia, yang harapannya ini dapat menjadi modal investasi SUN, untuk menciptakan pengembang software yang profesional sekaligus menghasilkan produk-produk open source yang bernilai bisnis
Bapak Harry Kaligis juga berharap agar pengembangan software di Indonesia tidak terbatas pada desktop, karena pengembangan software customization (enterprise) jauh lebih memberikan solusi pada pasar dan dapat di jual dengan harga yang jauh lebih baik dari software dengan desktop based.
Kemudahan Migrasi ke Open Source
Bpk. Andry S. Husain, IT Director Detik.com
“Open Source adalah agama kamiâ€, begitu ujar pak andry di awal persentasinya. Pada sesi kedua ini, Pak Andry langsung membuka “dapur†detik.com yang seluruh sistemnya dibangun menggunakan open source mulai dari detik.com yang menggunakan PHP, PostgreSQL dan GlusterFS, kemudian buku kuning detik.com yang dibangun menggunakan Ruby on Rails, Thin webserver dan Nginx webserver. DetikMap yang dibangun dengan MapServer dan KaMap, Detik Id yang dibangun menggunakan Glassfish, EJB 3.0, JRuby On Rails. Semua dikembangkan dengan software-software open source. Sementara itu, untuk lingkungan kantor pengguna open source lebih dari 80%.
Beberapa hambatan yang di alami seperti dukungan ekosistem open source berupa driver, periferal dan kompabilitas dapat diatasi dengan mencari produk-produk yang di dukung oleh open source. Sementara hambatan lain adalah dokumen perkantoran yang tidak berformat terbuka, hal ini sering kali terjadi jika melakukan tukar-menukar dokumen dengan instansi lain. Dan hambatan terbesar adalah pengguna yang enggan mengubah kebiasaan.
Strategi Implementasi di lingkungan kantor dapat di mulai dari “bottom up†yaitu dengan mendekati key person untuk menggunakan open source dan membentuk tim helpdesk yang solid. Sementara untuk strategi dari “Top Down†yaitu dengan membuat kebijakan ketat untuk penggunaan perangkat lunak legal dan menyediaan ekosistem yang mendukung.







