Jogja bukan lagi kota yang aman dan tenang
Categories: Random, Opinion
Written By: Agung Nugroho
Beberapa waktu lalu, tepat setelah kejadian angin puting beliung, seorang teman saya mengatakan bahwa “jogja bukan lagi kota yang aman dan tenang seperti dulu”. Yah.. ungkapan ini hanya saya tanggapi dengan senyuman kecil, karena Setiap orang memang memiliki pemikiran yang berbeda tentang aman dan tenang. Bagi saya arti aman dan tenang, jauh kepada kenyamanan saya seperti tidak ada huru-hara, demo yang damai, tidak ada konflik dalam masyarakat, dll. Namun bagi teman saya makna aman dan tenang juga dikaitkan dengan musibah dan bencana. Seperti banyaknya bencana yang melanda jogja yaitu gempa, angin lesus, merapi, dan banjir.
Bagi saya pribadi bencana alam adalah hal yang tidak bisa ditebak, bahkan seorang peramal seperi mami laurens pun hanya bisa memperkirakan bahwa akan terjadi bencana besar sekitar pertengahan tahun. Tentunya fakta memang terjadi, tapi ramalan itu hanya perkiraan. Toh terjadi atau tidaknya, itu masih jadi rahasia ALLAH. Memang tak bisa dipungkiri bahwa berkembangnya industrialisasi di jogja, seperti mall, cafe, dan klub-klub malam juga ikut mempengaruhi budaya dan gaya hidup orang jogja, sehingga ga jarang kl jogja sudah mulai terlihat seperti kota jakarta dan mungkin juga mengubah citra diri, kepribadian, dan cara berbusana bagi sebagian orang. Kita sendiri juga tidak bisa memungkiri bahwa perkembangan ini juga ikut mengubah citra jogja. dan mungkin dimasa depan, kota jogja akan berubah menjadi kota modern. Dan citra jogja kota yang aman, tenang, dan kondusif untuk kegiatan belajar semakin menghilang.
Saya sendiri baru 4 tahun ini di jogja, mungkin buat teman2 yang sudah hidup lama di jogja memiliki pendapat yang berbeda. Tapi sekarang tinggal kita bagaimana menjaga dan memaknai jogja sebagai kota yang aman dan tenang ? Mari kita jaga sama-sama kota tercinta ini.
Update:
Peristiwa terakhir adalah meledaknya pesawat garuda kemaren, dan kabarnya menewaskan mantan rektor UGM, Masykur Wiratmo. semoga beliau di terima disisi-NYA. amien.
Revisi :
Peristiwa terakhir adalah meledaknya pesawat garuda kemaren, dan kabarnya menewaskan mantan rektor UGM, Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri dan pak masykur wadek FE UGM. semoga beliau2 di terima disisi-NYA. amien.

March 8th, 2007 at 4:42 am
bukan cuma jogja aja yang gak ama dan tenang lagi, tapi indonesia bukan lagi tempat yang aman dan tenang karena sering nya bencana yang terjadi
March 8th, 2007 at 8:08 am
yg namanya musibah :((
March 8th, 2007 at 8:16 am
semoga indonesia lekas damai!
March 8th, 2007 at 2:43 pm
seumur hidup saya tinggal di yogya,,, this is my hometown,,, di sinilah saya merasa aman, walo ada banyak bencana…
btw, ralat… mantan rektor ugm itu pak Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri,,, kalo pak masykur itu wadek FE UGM. Dari lima orang UGM yang di dalam pesawat, mereka berdua sama-sama jadi korban dan meninggal, yang lain selamat.
March 9th, 2007 at 1:44 am
setuju.. bukan hanya Jogja yang ndak aman, Indonesia tuh..
kalo menurutku, ini sih PERINGATAN supaya kita bener-bener BERTAUBAT..
rasanya GOBLOK BANGET kalo kita udah diperingatkan berkali-kali tapi ndak bertobat, malah saling tuding menuding tentang siapa yang salah. bahkan muncul teori konspirasi, sabotase, dsb..
dasar ENDONESAH!!
tapi menurutku, Jogja JANGAN SAMPAI BERUBAH menjadi kota modern yang TIDAK menghargai kebudayaannya sendiri. Seomoga Jogja akan tetep selalu BERHATI NYAMAN, ramah masyarakatnya, memegang teguh kebudayaan dan budi pekerti..
Ralat: Masykur Wiratmo adalah AWAK KAPAL GARUDA, bukannya mantan rektor..
March 9th, 2007 at 3:26 am
jadi dimana tempat yg aman?
jika DIA sudah meminta , lalu bisakah kita menolak?
Turut berbela sungkawa juga buat Pak Koesnadi mantan rektor UGM, semoga arwah beliau diterima di sisiNYa , amin.
March 9th, 2007 at 7:32 am
perasaan sekarang di seluruh endonesa gak ada tempat yang aman,….. bencana yang terjadi beruntun ini menurutku lebih karena faktor ’spiritual’ alias rata2 masyarakat endonesa kurang taat beragama, kurang jujur de el el
March 9th, 2007 at 7:39 am
# 3
amien
# 4
oke mas chocholuv, udah saya revisi
# 5
mas zam, pak masykur bukan awak garuda, tapi wadek FE UGM
# 6
kl emang udah waktunya ajal, kita ga kan bisa nolak mas. BTW situs mas, ga bisa tak komentari
# 7
iya.. dan saya adalah salah satunya yang paling bandel dan ga taat. tq. buat pencerahannya
March 9th, 2007 at 8:17 am
chocoluv bukan mas!! :((
@zam,,, wuuu… mentang2 wis meh lulus njuk sok salah,,, pak masykur tu wadek fakultas tetangga saya,,, bukan awak garuda… peralat kok diralat
March 9th, 2007 at 8:23 am
# 9
ha..ha.. tak kirain kyk tokoh chocoluv di anime shaman king… item, co, n kriting -he
ternyata ce.. hi..hi..
March 9th, 2007 at 9:58 am
astagfiruloh.. lagi2 musibah.. harus taubat nasuha seindonesia nih kayanya..
March 9th, 2007 at 3:24 pm
aman opo ndak jogja tetep menarik….
March 10th, 2007 at 4:31 am
ealah….
ktanya permadi (sang paranormal):
jogja solo yg harusnya kental aroma budaya n tradisi, seharusnya masih mengedepankan tradisi dan adat nya, termasuk kejawen.
Hla ini yg dah jrang dilirik Sultan yg sekarang ini, mungkin inikah penyebabnya?
March 10th, 2007 at 7:36 am
# Devishanty
iya emang udah saat nya kita smua tobat.
# Bebek
siipp… deh.. emang gmn pun jogja tetep top.
# didit
Adh soal sultan mah, aku juga kurang tau ya.. tp kyknya bukan cmn sultan aja yang melupakan tradisi, masyarakatnya seperti saya juga udah mulai melupakan.
March 12th, 2007 at 9:46 am
Jogja??Kucingannya tetep dihati
walo banyak kafe